kepada matahari hari ini:
Kau mengingatkanku pada hari itu
ketika hadirmu tak menggangguku
ingatkah kau? karena aku tak sedang sendiri
aku sedang berjalan, kadang bergandeng tangan
jalanan kala itu sedang ramai..
memang selalu ramai.
aku tahu ia lelah, namun semua begitu indah, tak mungkin kubiarkan melewatkan.
Aku memakai baju yang sama persis dengan yang kupakai hari ini.
hanya saja hari ini aku tau ia sedang membuat hari indah dengan yang lainnya.
Mungkinkah kau menyingkir sejenak, wahai Matari? aku tak tahan. Bahkan hadirmu terlalu erat dengan hadirnya.
Monday, December 25, 2017
Wednesday, December 6, 2017
Pulang
Aku sudah terbiasa dengan perjalanan pulang yang panjang.
Aku pun telah terbiasa dengan perjalanan pulang yang penuh aral melintang.
Aku sanggup.
Aku ingin pulang.
Aku tak kan lagi peduli apapun.
Aku ingin pulang.
Kepadamu.
Aku pun telah terbiasa dengan perjalanan pulang yang penuh aral melintang.
Aku sanggup.
Aku ingin pulang.
Aku tak kan lagi peduli apapun.
Aku ingin pulang.
Kepadamu.
Friday, October 6, 2017
Aku menyimpan dendam pada kawanan burung-burung yang menyaksikan tawamu di senja kala itu
Dapat kau bayangkan rasaku pada setiap kesempatan yang tak kumiliki untuk dapat menghembus bersama debu hanya agar kau tau adaku?
Aku memupuk benci pada angin yang tak henti mengelus-elus rambutmu di saat matari muncul malu-malu
Aku terang-terangan benci pada semua jaketmu yang selalu dapat berbagi hangat dan harum tubuhmu
Monday, July 31, 2017
Tawa
Sungguh, ada apa dengan gulungan suara tawamu?
mengapa tak terelakkan kehadiran ombak yang tak henti mengingatkanku pada sosok rumah.
Aku ingin tinggal di sana.
Berselimut gulung tawamu.
Berteman semilir cintamu yang teduh.
mengapa tak terelakkan kehadiran ombak yang tak henti mengingatkanku pada sosok rumah.
Aku ingin tinggal di sana.
Berselimut gulung tawamu.
Berteman semilir cintamu yang teduh.
Thursday, July 20, 2017
Andai aku cukup tahu diri untuk selalu di sini
mungkin bayangmu adalah bayangan paling bahagia.
Aku akan seutuhnya mencinta,
sampai kau jera dan menghilang dalam gelap.
Namun aku tau esok hari kau akan hadir lagi
dan aku dapat mencintaimu lagi
Aku akan merasa cukup dengan bayangmu,
tak perlu kau tawarkan harummu, alunan kata indahmu dan hangat sentuhmu
Tak perlu semua itu, aku bisa membahagiakan mu.
Pun aku.
mungkin bayangmu adalah bayangan paling bahagia.
Aku akan seutuhnya mencinta,
sampai kau jera dan menghilang dalam gelap.
Namun aku tau esok hari kau akan hadir lagi
dan aku dapat mencintaimu lagi
Aku akan merasa cukup dengan bayangmu,
tak perlu kau tawarkan harummu, alunan kata indahmu dan hangat sentuhmu
Tak perlu semua itu, aku bisa membahagiakan mu.
Pun aku.
Tuesday, July 4, 2017
Why.
I thought it was us against the world.
Ternyata tinggal aku sendiri.
derap langkahmu tak terdengar,
kau takkan terkejar.
dan di sini, terdudukku di tepi kursi ditemani pintu yang menganga.
To face the world never felt so hard,
but to face the non-existence of you and your love,
I'll let me vanish.
Ternyata tinggal aku sendiri.
derap langkahmu tak terdengar,
kau takkan terkejar.
dan di sini, terdudukku di tepi kursi ditemani pintu yang menganga.
To face the world never felt so hard,
but to face the non-existence of you and your love,
I'll let me vanish.
Thursday, May 25, 2017
Begini caraku
Karena cinta seharusnya tak pernah terlalu erat menggenggam.
Aku hanya akan ada, selalu, sebisaku.
Disini sampai mungkin takkan lagi kudengar derapmu.
Namun aku akan selalu di sini.
Begini caraku mencintaimu.
Akan kutunggu hingga tiada lagi belenggu.
23 Dec 2016
Aku hanya akan ada, selalu, sebisaku.
Disini sampai mungkin takkan lagi kudengar derapmu.
Namun aku akan selalu di sini.
Begini caraku mencintaimu.
Akan kutunggu hingga tiada lagi belenggu.
23 Dec 2016
Sunday, May 21, 2017
Gulung Ombak
Tawamu serupa ombak yang bergulung
Andai waktu berkenan biarkan mematung.
--
Pantas saja kau terasa seperti rumah, tak pernah aku senyaman ini.
Happy Vesak Day, 2017
Andai waktu berkenan biarkan mematung.
--
Pantas saja kau terasa seperti rumah, tak pernah aku senyaman ini.
Happy Vesak Day, 2017
Sunday, May 14, 2017
Schoene Urlaub
Aku ingin tenggelam di matamu.
Padamkan segala bara yang menyala.
baraa yang kuhidupkan sendiri.
bara yang kutiupkan angin agar semakin besar nyalanya.
Aku ingin tenggelam di matamu.
dengan begitu tak perlu lagi tanya.
Kubur saja mengapa.
pun asa.
Aku ingin tenggelam di matamu.
Buat aku tenang.
Namun aku lupa, aku tak bisa berenang.
Padamkan segala bara yang menyala.
baraa yang kuhidupkan sendiri.
bara yang kutiupkan angin agar semakin besar nyalanya.
Aku ingin tenggelam di matamu.
dengan begitu tak perlu lagi tanya.
Kubur saja mengapa.
pun asa.
Aku ingin tenggelam di matamu.
Buat aku tenang.
Namun aku lupa, aku tak bisa berenang.
(4 Jan 17)
Kau senyata senja yang kuraba dari jendela
kau sesemu tangan-tangan besar yang mengatur segala
kau adalah ada
kau adalah tiada
kau seperti fiksi yang terlampau nyata
pun seperti fakta yang seindah puisi.
kau sesemu tangan-tangan besar yang mengatur segala
kau adalah ada
kau adalah tiada
kau seperti fiksi yang terlampau nyata
pun seperti fakta yang seindah puisi.
Aku selalu siap pergi di malam hari
lalu menyerah tiap pagi hari
Terlalu banyak ketiadaanmu dan terlalu banyak pikirku saat gelap
Terlalu banyak hadirmu dan terlalu sedikit waktuku berbicara sendiri saat terang
Selayaknya pelari di jalur balap kuda,
aku tau aku salah jalur dan akan babak belur.
Tapi kau tak henti melambai di ujung sana,
senyumku tak henti merekah meski merana.
Aku bahagia, tak perlu disangkal.
Rasa yang lain, takkan masuk di akal..
selama kau di sini.
lalu menyerah tiap pagi hari
Terlalu banyak ketiadaanmu dan terlalu banyak pikirku saat gelap
Terlalu banyak hadirmu dan terlalu sedikit waktuku berbicara sendiri saat terang
Selayaknya pelari di jalur balap kuda,
aku tau aku salah jalur dan akan babak belur.
Tapi kau tak henti melambai di ujung sana,
senyumku tak henti merekah meski merana.
Aku bahagia, tak perlu disangkal.
Rasa yang lain, takkan masuk di akal..
selama kau di sini.
Monday, May 8, 2017
Sunday, April 9, 2017
One Whole Package
Suatu hari ketika hujan sedang menari, kudengar pintuku diketuk.
Hari itu agak dingin, aku tak henti berusaha menghangatkan diri dengan mengusap tangan dan lenganku bergantian, lupa bahwa aku memiliki jaket bulu biri-biri.
Dengan agak lesu namun penasaran, aku mencoba membuka pintu.
Kutemukan sebuah kotak di sana.
Hadiah. Lengkap dengan hiasan pita dan terbungkus rapi.
Kucari kartu ucapannya untuk menemukan siapa pengirimnya, namun hanya kurasa desir angin yang membawa serta beberapa dedaunan yang sudah terlanjur gugur dan tak lupa serta dengan dingin sehingga segera kubawa hadiah itu ke dalam.
Setelah meletakkannya di samping sofa, pikirku melayang, ini masih bulan November, tak mungkin Santa salah tanggal. Tak pula kutemukan plastik atau apapun yang membungkusnya, benarkah ada yang rela keluar ditengah dingin ini hanya untuk menaruh sebuah hadiah? bahkan tanpa keinginan untuk diketahui siapa. Tak mungkin ada manusia seikhlas itu, pikirku.
Walau hadiah ini terkesan tak bertuan, namun ia tergeletak di depan pintuku, kan? lantas, kuberanikan diri saja untuk membuka.
Info tambahan bagi yang tak mengenalku, Aku selalu merasa Santa ada, namun tahun ini aku sudah hampir menyerah untuk berharap ia datang. Entah karena Tuhannya tak sama denganku, atau karena aku terlalu tidak baik sehingga ia tak pernah datang, dan aku sudah lelah menunggu dengan berlapis-lapis kertas berisi harapan.
Kembali ke hadiah lagi, di dalam pintu tersebut hanya ada aku, dan aku lahir bulan Februari. Terlalu cepat untuk jadi kado ulang tahunku, kan? Hadiah ini pastinya salah alamat, atau mungkin Santa tak sengaja menjatuhkan hadiah ini ketika beliau sedang survey untuk berbagi bulan depan.
Pelan-pelan kubuka bungkusnya yang rapi, pitanya sudah kulepaskan terlebih dahulu agar tidak rusak dan bisa ditempelkan di kulkas atau di tembok kamarku (aku selalu begitu). Ternyata di dalam kotak hadiah yang tidak kecil itu, terdapat banyak hal-hal yang selalu kutuliskan di kertas-kertas harapanku, namun anehnya mereka semua tersambung dan menyatu. Semua yang pernah kuinginkan, semua yang pernah kukhayalkan akan membuat hidupku sedikit lebih baik, semua ada di dalam kotak hadiah itu. Kotak hadiah itu benar-benar mewakili apa saja yang pernah melintas dan yang selalu menetap di inginku.
Aku tak sanggup menahan tangisku. Aku berbahagia, sendirian, di tengah dingin yang tak juga surut karena aku tak punya penghangat ruangan. Aku kembalikan percayaku pada Santa, ternyata ia mendengar, pikirku.
Namun beberapa detik setelah rekah senyumku semerbak bagai bunga putri malu yang belum tersentuh, aku menyadari ada beberapa hal yang berlebihan di dalam kotak hadiah ini, ada beberapa benda yang tak dapat kusentuh karena dijaga dedurian yang lebatnya sama dengan rambut pria arab yang kulihat di pinggiran jalan beberapa hari lalu. Bahkan ternyata ada sebongkah pisau yang seakan siap menerkamku jika ingin ku ambil isi hadiah itu.
Hadiah yang selama ini kutunggu, yang pada akhirnya datang tepat di depan pintuku, apa harus kurelakan tetap terbelenggu? Apa aku harus nikmati terus dunia isi kotak hadiah tersebut dari jauh atau harus kubiarkan ia melukaiku agar bisa kurengkuh?
Hari itu agak dingin, aku tak henti berusaha menghangatkan diri dengan mengusap tangan dan lenganku bergantian, lupa bahwa aku memiliki jaket bulu biri-biri.
Dengan agak lesu namun penasaran, aku mencoba membuka pintu.
Kutemukan sebuah kotak di sana.
Hadiah. Lengkap dengan hiasan pita dan terbungkus rapi.
Kucari kartu ucapannya untuk menemukan siapa pengirimnya, namun hanya kurasa desir angin yang membawa serta beberapa dedaunan yang sudah terlanjur gugur dan tak lupa serta dengan dingin sehingga segera kubawa hadiah itu ke dalam.
Setelah meletakkannya di samping sofa, pikirku melayang, ini masih bulan November, tak mungkin Santa salah tanggal. Tak pula kutemukan plastik atau apapun yang membungkusnya, benarkah ada yang rela keluar ditengah dingin ini hanya untuk menaruh sebuah hadiah? bahkan tanpa keinginan untuk diketahui siapa. Tak mungkin ada manusia seikhlas itu, pikirku.
Walau hadiah ini terkesan tak bertuan, namun ia tergeletak di depan pintuku, kan? lantas, kuberanikan diri saja untuk membuka.
Info tambahan bagi yang tak mengenalku, Aku selalu merasa Santa ada, namun tahun ini aku sudah hampir menyerah untuk berharap ia datang. Entah karena Tuhannya tak sama denganku, atau karena aku terlalu tidak baik sehingga ia tak pernah datang, dan aku sudah lelah menunggu dengan berlapis-lapis kertas berisi harapan.
Kembali ke hadiah lagi, di dalam pintu tersebut hanya ada aku, dan aku lahir bulan Februari. Terlalu cepat untuk jadi kado ulang tahunku, kan? Hadiah ini pastinya salah alamat, atau mungkin Santa tak sengaja menjatuhkan hadiah ini ketika beliau sedang survey untuk berbagi bulan depan.
Pelan-pelan kubuka bungkusnya yang rapi, pitanya sudah kulepaskan terlebih dahulu agar tidak rusak dan bisa ditempelkan di kulkas atau di tembok kamarku (aku selalu begitu). Ternyata di dalam kotak hadiah yang tidak kecil itu, terdapat banyak hal-hal yang selalu kutuliskan di kertas-kertas harapanku, namun anehnya mereka semua tersambung dan menyatu. Semua yang pernah kuinginkan, semua yang pernah kukhayalkan akan membuat hidupku sedikit lebih baik, semua ada di dalam kotak hadiah itu. Kotak hadiah itu benar-benar mewakili apa saja yang pernah melintas dan yang selalu menetap di inginku.
Aku tak sanggup menahan tangisku. Aku berbahagia, sendirian, di tengah dingin yang tak juga surut karena aku tak punya penghangat ruangan. Aku kembalikan percayaku pada Santa, ternyata ia mendengar, pikirku.
Namun beberapa detik setelah rekah senyumku semerbak bagai bunga putri malu yang belum tersentuh, aku menyadari ada beberapa hal yang berlebihan di dalam kotak hadiah ini, ada beberapa benda yang tak dapat kusentuh karena dijaga dedurian yang lebatnya sama dengan rambut pria arab yang kulihat di pinggiran jalan beberapa hari lalu. Bahkan ternyata ada sebongkah pisau yang seakan siap menerkamku jika ingin ku ambil isi hadiah itu.
Hadiah yang selama ini kutunggu, yang pada akhirnya datang tepat di depan pintuku, apa harus kurelakan tetap terbelenggu? Apa aku harus nikmati terus dunia isi kotak hadiah tersebut dari jauh atau harus kubiarkan ia melukaiku agar bisa kurengkuh?
Sunday, March 5, 2017
Long
Kuharap akan datang malam yang bisa kuhabiskan dalam diam -- bersamamu.
hanya menikmati malam yang gelap dan dingin, sembari saling menghangatkan dalam genggam.
malam yang bisa dijalani tanpa perlu beri perhatian pada setiap penunjuk waktu.
malam yang menelan semua bising tanpa membuat kita terselimuti diam yang asing.
malam yang bergerak merambat, tanpa ada takut esok terlambat.
malam yang penuh.
malam yang hanya terdiri atas aku, kamu, gelap dan pendar kekuningan -- akan kupastikan kau tenggelam sambil bernafas sebebasbebasnya.
hanya menikmati malam yang gelap dan dingin, sembari saling menghangatkan dalam genggam.
malam yang bisa dijalani tanpa perlu beri perhatian pada setiap penunjuk waktu.
malam yang menelan semua bising tanpa membuat kita terselimuti diam yang asing.
malam yang bergerak merambat, tanpa ada takut esok terlambat.
malam yang penuh.
malam yang hanya terdiri atas aku, kamu, gelap dan pendar kekuningan -- akan kupastikan kau tenggelam sambil bernafas sebebasbebasnya.
Tuesday, February 28, 2017
I love you Blue.
Because when you love.
You just love.
You don't think. You don't judge. You don't mind.
I love you, so much i'm ready to let you go.
I love you, so much i don't think i'll mind if you don't love me back or as much as i do.
I love you, without knowing why and how and till when.
I just do. So much. And happily.
You just love.
You don't think. You don't judge. You don't mind.
I love you, so much i'm ready to let you go.
I love you, so much i don't think i'll mind if you don't love me back or as much as i do.
I love you, without knowing why and how and till when.
I just do. So much. And happily.
Monday, February 27, 2017
Jendela
Aku baru saja mengahancurkan jendelaku.
Tak lama setelah kau pergi,
aku bakar ia. agar habis menjadi abu yang akan kukubur hidup-hidup.
Aku bahkan takkan rela ia terbawa angin. Aku benci jika ia dimiliki oleh orang lain.
Ia adalah kamu yang tersisa.
Sebongkah jendela.
Tak lama setelah kau pergi,
aku bakar ia. agar habis menjadi abu yang akan kukubur hidup-hidup.
Aku bahkan takkan rela ia terbawa angin. Aku benci jika ia dimiliki oleh orang lain.
Ia adalah kamu yang tersisa.
Sebongkah jendela.
Tuesday, January 31, 2017
Selimut
Risau bersandar di punggung
memaksaku terkungkung dalam bisu yang linglung
Aku termenung, terlalu banyak kelebat yang beterbangan
Tak lagi kumaui bibirmu
Hanya ingin ia berada padamu agar dapat rekah senyum yang indah itu
Andai aku dapat merengkuhmu. Saat-saat seperti ini, saat-saat nanti.
saat-saat ketika tak perlu lagi resah, saat-saat ketika kita tak lagi salah.
memaksaku terkungkung dalam bisu yang linglung
Aku termenung, terlalu banyak kelebat yang beterbangan
Tak lagi kumaui bibirmu
Hanya ingin ia berada padamu agar dapat rekah senyum yang indah itu
Andai aku dapat merengkuhmu. Saat-saat seperti ini, saat-saat nanti.
saat-saat ketika tak perlu lagi resah, saat-saat ketika kita tak lagi salah.
Tuesday, January 24, 2017
Kling
Suaramu adalah secangkir coklat panas yang kureguk di ladang salju.
Suaramu adalah selimut terhangat dikamar ibuku.
Suaramu adalah candu yang tak hilang setelah ditengkar waktu.
(I'm glad i recorded some)
Suaramu adalah selimut terhangat dikamar ibuku.
Suaramu adalah candu yang tak hilang setelah ditengkar waktu.
(I'm glad i recorded some)
Monday, January 9, 2017
Subscribe to:
Comments (Atom)